Mengenal Pentingnya Menjaga Kekuatan Otot Setelah Usia 40

Perbesar Huruf :

Lansia memiliki risiko 2 kali lipat untuk mengalami disabilitas fisil terhadap domain kognitif, mobilitas, perawatan diri, memelihara persahabatan, mengerjakan pekerjaan sehari-hari maupun partisipasi.

 

Jakarta, 21 Februari 2020 – Penurunan fungsi organ tubuh manusia merupakan salah satu dampak yang diakibatkan dari proses penuaan. Otot rangka merupakan salah satu organ yang mengalami penurunan fungsinya akibat pengaruh dari proses penuaan tersebut2, orang dengan usia 40 tahun keatas akan kehilangan 8% dari massa otot setiap dekadenya dan tingkat penurunan ini akan bertambah dua kali lipat setelah usia 70 tahun.

Berdasarkan data proyeksi penduduk, diperkirakan tahun 2017 terdapat 23,66 juta jiwa penduduk lansia di Indonesia (9,03%), tahun 2020 (27,08 juta), tahun 2025 (33, juta), tahun 2030 (40,95 juta), dan tahun 2035 (48,19 juta). Sedangkan, penduduk produktif usia 10-44 tahun di Indonesia memiliki persentase terbesar jika dibandingkan kelompok umur lainnya yaitu 56,18%.3 Namun, orang yang termasuk ke dalam golongan penduduk dengan usia produktif atau 40 tahun keatas justru memiliki risiko kehilangan kekuatan otot akibat kurangnya asupan nutrisi yang tepat bagi ototnya dan kurangnya olahraga.

Kondisi kehilangan kekuatan otot ini kerap kali diabaikan bagi sebagian besar orang karena dianggap sebagai hal wajar yang dapat terjadi akibat sebuah proses bertambahnya usia. Hal ini didukung oleh pernyataan Dr. Suzette Pereira, Ph.D., salah satu peneliti Abbott yang fokus terhadap kesehatan otot, "Kehilangan kekuatan otot adalah faktor penuaan yang jarang dibahas dan orang-orang menerima tanda-tandanya, seperti kehilangan kekuatan dan energi, sebagai bagian alami dari penuaan. Tetapi kekuatan ototlah yang akan menginformasikan kepada kita bagaimana kita akan menua, dan tetap aktif serta mandiri.”

Jika kondisi tersebut tetap diabaikan maka memungkinkan seseorang mengalami kehilangan kekuatan otot saat usia lanjut meningkat, atau dikenal dengan istilah sarkopenia, dimana sarkopenia mempengaruhi hampir 1 dari 3 orang di atas usia 50 tahun. 

Bagaimanakah cara untuk menjaga kekuatan otot seiring bertambahnya usia?  Berikut adalah infografi yang dapat diterapkan , diambil dari situs kesehatan Abbott :

Otot tidak hanya penting untuk tugas fisik sehari-hari seperti mengambil barang, meraih sesuatu, membuka botol atau bangun dari kursi. Tetapi otot yang sehat juga penting untuk fungsi organ, kesehatan kulit, kekebalan tubuh dan metabolisme manusia. Dengan kata lain, mempertahankan kekuatan massa otot seiring bertambahnya usia sangat penting untuk memperpanjang hidup yang bahagia dan sehat.

Sudahkah kamu memeriksakan status gizimu secara berkala? Atau mengecek bagaimana kondisi massa otot tubuhmu? Apakah kamu sudah memiliki asupan energi dan protein yang seimbang untuk mencegah risiko disabilitas pada saat memasuki usia senja? Sebelum terlambat, yuk persiapkan masa tua yang berkualitas dengan cara  memeriksa kondisi gizi secara rutin, mengkonsumsi asupan yang kaya akan protein, dan olahraga teratur  untuk menjaga otot agar tetap kuat dan seimbang di masa tua.

Artikel ini sebagian diambil dari situs www.nutritionnews.abbott dengan penambahan informasi lokal.

 

Referensi

1 Muljati.S., Triwinarto.A., Kristanto. Y.(2014). Disability of Elderly Based on Nutritional Status, Anemia and Socio-demographic Characteristics. Penel Gizi Makan. Vol. 37 (2). P.87

2. Riviati. N., Setiati. S., Laksmi. P. W., Abdullah. M., 2017.  Factors Related with Handgrip Strength in Elderly Patients, Acta Med Indonesia, 49 (3), p. 215-216

3. Kementerian Kesehatan RI., 2017. Analisis Lansia di Indonesia.